Seperti biasa, kemarin saya naik damri lagi dari Cicaheum menuju Kosambi. Untungnya sang damri TMB idaman sedang ngetem karena belum penuh penumpang. Saya cepat-cepat ambil posisi di dekat pintu keluar supaya bisa langsung loncat indah menuju halte kalau turun nanti. Tak berapa lama, seorang bapak tua masuk sambil membawa bungkusan yang terlihat berat. Beliau melihat-lihat sekitar, tapi kursi bagian depan isinya wanita semua sehingga ia sungkan duduk dan tampaknya ia malas berjalan ke bagian belakang bis.
Akhirnya saya bergeser dan mempersilakannya untuk duduk. Bukannya duduk, si bapak malah menaruh bungkusannya di kursi, sementara ia tetap berdiri.
Tak lama kemudian bis mulai melaju. Bapak tua itu terlihat panik dan menunjuk keluar jendela, sambil berteriak, "Bu! Bu!"
Ya ampun, istrinya ketinggalan!
Perlu beberapa detik bagi penumpang untuk bereaksi. Mereka menuju kaca jendela bis sambil mengetuk-ngetuk kaca tersebut dan ikutan berteriak. Tapi tampaknya bis itu kedap suara sehingga si Ibu hanya menatap kami dengan aneh bagaikan segerombolan orang panik tanpa suara (yang saya heran, sopir bisnya nggak inisiatif menghentikan bis ==').
Bapak itu bukannya membantu tetapi malah membiarkan penumpang lain bekerja. Baru beberapa saat kemudian beliau maju menuju jendela karena melihat istrinya kebingungan.
Setelah melihat suaminya, si Ibu buru-buru naik ke bis yang akhirnya berhenti juga.
Lalu begitu Ibu itu masuk, kami para penumpang jadi mesem-mesem maklum satu sama lain dan suasana damri langsung bagaikan bis karyawisata yang isinya tetangga dan teman lama. ;)